Publik Netizen - Seorang ibu paruh baya menghebohkan warga Makassar karena mendatangi kantor Kelurahan Biring Romang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dan mengaku dirinya sebagai Nabi ke-26 pada Senin, 7 Agustus 2017.
Berdasarkan penelusuran Liputan6.com, ibu paruh baya tersebut bernama Hadariah, dia merupakan warga Jalan Borong Jambu, Kelurahan Biring Romang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.
"Iya memang betul kemarin dia datang, awalnya kita tidak tahu namanya, tapi setelah kita telusuri ternyata namanya Hadariah," kata Muhammad Ilyas, salah seorang staf di Kantor Kelurahan Biring Romang, Selasa, 8 Agustus 2017.
Awalnya, kata Ilyas, Hadariah datang hanya ingin mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP). Namun saat diminta membawa pengantar dari ketua RW dan RT, Hadariah malah minta untuk bertemu dengan Lurah Biring Romang, Rahmat.
"Pertama datang dia katanya mau urus KTP, jadi kita minta dia untuk ambil pengantar di RT dan RW-nya. Setelah kami jelaskan syaratnya, ibu itu malah ngotot bertemu Pak Lurah," kata Ilyas.
Salah seorang staf kemudian memanggil Lurah di ruangannya. Lurah kemudian menemui Hadariah. Saat itulah Hadariah mengungkapkan bahwa dirinya adalah nabi utusan Allah yang ke-26.
"Pak Lurah temui, pas ketemu dia mengaku sebagai nabi dan mengatakan bahwa dirinya adalah nabi ke-26," ucap Ilyas.
Saat itu, ucap Ilyas, Lurah Biring Romang kemudian meminta Hadariah untuk membuktikan bahwa dirinya adalah seorang nabi. "Itu ibu lalu keluarkan buku yang dia sebut sebagai kitab," katanya.
Kitab itu merupakan fotokopi dari tulisan tangan yang bertuliskan pesan-pesan keselamatan dunia dan akhirat. Beberapa lembar di antaranya berisi foto-foto dirinya sedang ceramah.
"Kita sempat liat itu kitabnya, ada pesan-pasan keselamatan ada juga foto-foto. Tapi, beberapa tulisan tidak jelas maksudnya," ucap Ilyas.
Muslimin, salah seorang ketua RT yang kebetulan berada di Kantor Kelurahan Biring Romang, sempat meminta Hadariah untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, kalimat syahadat yang terdengar tak seperti lazimnya kalimat syahadat yang tertera pada rukun Islam pertama itu.
"Ada kalimat yang diganti. Saya tidak ingat persis," kata Muslimin.
Foto dan video kedatangan Hadariah ke Kantor Lurah Biring Romang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, dan mengaku sebagai nabi diunggah salah seorang staf kelurahan di akun Facebook miliknya. Unggahan itu jadi buah bibir setelah dikomentari dan dibagikan ratusan kali.
Sumber : liputan6.com
Publik Netizen merupakan portal berita unik dan menarik yang disari ulang dari berbagai informasi dan media yang dapat dipercaya
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Selasa, 08 Agustus 2017
Sabtu, 29 Juli 2017
Merinding! Ini Foto-foto Suasana Puluhan Ribu Umat Islam Tumpah Ruah Hadiri Aksi Damai 287
Puluhan Ribu massa peserta Aksi 287 melakukan longmarch. Usai menunaikan salat Jumat (28/72017) di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, massa Aksi 287 melakukan longmarch menuju gedung Mahkamah Konstitusi (MK) di jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.
Dengan melantunkan Takbir, sholawat, peserta aksi yang membawa bendera tauhid mengibarkan sembari berjalan.
Mayoritas peserta laki-laki mengenakan baju koko berwarna putih dan tak ketinggalan kopiah di kepalanya. Tak hanya kaum Adam, perempuan pun ikut ambil bagian dalam aksi yang dikoordinir Presidium 212.
Massa Aksi 287 menolak Perppu nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas yang dikeluarkan Presiden Jokowi. Perppu ini telah memakan korban ormas HTI yang secara semena-mena tanpa proses peradilan dibubarkan sepihak. Mereka menilai penerbitan Perppu Ormas sebagai bentuk kembalinya rezim otoriter ala Orba.
Berikut foto-foto puluhan ribu umat islam tumpah ruah dalam aksi 287 di Jakarta:
Sebarkan..!!!
Dengan melantunkan Takbir, sholawat, peserta aksi yang membawa bendera tauhid mengibarkan sembari berjalan.
Mayoritas peserta laki-laki mengenakan baju koko berwarna putih dan tak ketinggalan kopiah di kepalanya. Tak hanya kaum Adam, perempuan pun ikut ambil bagian dalam aksi yang dikoordinir Presidium 212.
Massa Aksi 287 menolak Perppu nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas yang dikeluarkan Presiden Jokowi. Perppu ini telah memakan korban ormas HTI yang secara semena-mena tanpa proses peradilan dibubarkan sepihak. Mereka menilai penerbitan Perppu Ormas sebagai bentuk kembalinya rezim otoriter ala Orba.
Berikut foto-foto puluhan ribu umat islam tumpah ruah dalam aksi 287 di Jakarta:
Sebarkan..!!!
Ust. Haikal: Ente Ulama Apa Setan? Protes Sorban, Jenggot tapi tak Pernah Protes Rok Mini & Situs P0rn0!
Publik Netizen - Ustad Haikal Hasan Heran dengan oknum yang mengaku Ulama.Ngakunya Ulama tapi protes dengan dan mempermasalahkan sorban, Namun tidak pernah memprotes pakaian membuka aurat seperti rok mini, tanktop bahkan situs p0rn0.
Menurut Ustad Haikal Hasan Ulama macam apa ini?.Jangan-jangan ini setan yang berkedok Ulama, berpura-pura menjadi dan mengaku Ulama.Sebab hal-hal yang merusak dan dilarang oleh agama di biarkan dan hal-hal yang akan memperkuat kedudukan agama lansung di protes habis-habisan.
“Ada lho yg masalahkan sorban, jubah/gamis, jenggot, namun gak pernah masalahkan tanktop, rok mini, situs porno… Ente ulama apa SETAN sih?” kata aktivis Islam Haikal Hasan di akun Twitter-nya @haikal_hassan.
Kicauan ustd Haikal itu diretweet 1.739 dan dilike 1.612 followers.
Menurut penilaian netize yang menjadi follower kicauan Haikal Hasan itu ditujukan kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj.
"Ust. menghina Said Agil dong… Katanya lebih baik liat gitu…banyak Istighfar..drpd yg radikal." ungkap akun @harimawon
"Singkat padat dan nonjok. Mantap Pak." ungkap @opinisemut.
"Ulama palsu..diotak, uang..uang..uang..jualan lbh baik kok.." ungkap akun @islanrizki.
" ulama' su' lebih berbahaya dr pd dajjal.ciri2x,klo liat uang matanya biru." ungkap akun @alie_barbar.
"Nama nya aja kiyai gadongan,rezim skrg kan seneng sm kiyai2 kyk si aqil" ungkap akun @EdyRafael7. [***]
Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat
Menurut Ustad Haikal Hasan Ulama macam apa ini?.Jangan-jangan ini setan yang berkedok Ulama, berpura-pura menjadi dan mengaku Ulama.Sebab hal-hal yang merusak dan dilarang oleh agama di biarkan dan hal-hal yang akan memperkuat kedudukan agama lansung di protes habis-habisan.
“Ada lho yg masalahkan sorban, jubah/gamis, jenggot, namun gak pernah masalahkan tanktop, rok mini, situs porno… Ente ulama apa SETAN sih?” kata aktivis Islam Haikal Hasan di akun Twitter-nya @haikal_hassan.
Kicauan ustd Haikal itu diretweet 1.739 dan dilike 1.612 followers.
Menurut penilaian netize yang menjadi follower kicauan Haikal Hasan itu ditujukan kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj.
"Ust. menghina Said Agil dong… Katanya lebih baik liat gitu…banyak Istighfar..drpd yg radikal." ungkap akun @harimawon
"Singkat padat dan nonjok. Mantap Pak." ungkap @opinisemut.
"Ulama palsu..diotak, uang..uang..uang..jualan lbh baik kok.." ungkap akun @islanrizki.
" ulama' su' lebih berbahaya dr pd dajjal.ciri2x,klo liat uang matanya biru." ungkap akun @alie_barbar.
"Nama nya aja kiyai gadongan,rezim skrg kan seneng sm kiyai2 kyk si aqil" ungkap akun @EdyRafael7. [***]
Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat
Rabu, 26 Juli 2017
Nasehat Ibu Irena Handono Mantan biarawati yang sekarang jadi ustadzah: Jangan Tinggalkan Anak di Rumah demi Karir
Publik Netizen - Mantan biarawati menilai keliru jika para wanita lebih suka bekerja di kantor atau pabrik. Padahal Ibu Rumah tangga itu pekerjaan mulia dan pendidikan yang utama
Orangtua mana yang ingin anak-anaknya terjerumus ke lembah kenistaan dan kesesatan? Tak satupun orangtua di dunia ini menginginkannya. Jika pun ada, mungkin itu sebuah kegilaan.
Demikian salah satu kajian “Wahai Bunda Didiklah Aku dalam Islam” yang dibawakan oleh Pengasuh Majlis Ta’lim Al-Muhtadin dan Forum Komunikasi Lembaga Pembina Muallaf, Irena Handono belum lama ini.
Menurutnya, mendidik anak di era seperti ini dibutuhkan ekstra pengawalan. Jika perlu dari tidur hingga bangun tidur kita memantaunya.
Perilaku anak mayoritas ditentukan oleh seorang ibu. Sebab ibu-lah yang menurut banyak psikolog lebih mengerti sentuhan emosional anak.
“Ibu banyak meninggalkan pekerjaan utamanya mengurus anak. Andai memiliki baju bagus, tapi baju tersebut diletakan di lemari pembantu, bagaimana perasaannya? Tentu tidak ikhlas, bukan?” demikian ujar lulusan dari Seminari Agung (Institut Filsafat Teologia Katolik) ini.
Pendiri Irena Center ini mencontohkan, di dalam dunia yang kini penuh dengan modernisme, liberalisme dan sekulerisme, keberadaan seorang ibu saat ini terasa jauh bagi anak, bahkan seolah “tidak ada”.
Untuk mengurus anak saja seorang ibu saat ini sudah membutuhkan baby sitter.
Dalih ini yang dipakai kebanyakan ibu untuk melancarkan karirnya di luar. Padahal peran ibu di rumah tangga sangat dibutuhkan.
Mantan biarawati keturunan Thionghoa ini menitipkan pesan moral para para ibu tentang mendidik anak.
Ia menganalogikan seorang anak bagaikan gaun yang sangat mahal dan mesti dijaga super ketat.
“Mahal mana, gaun dengan putra dan putri kita yang dipercaya oleh baby sitter? Anak jangan dititipi oleh orang yang ‘tidak terpelajar’,” ujarnya pada hidayatullah.com.
Kasus Jepang
Ia mencontohkan Negara Jepang adalah Negara yang pernah mengalami degradasi moral karena terkikisnya rasa nasionalismenya oleh Barat.
Bahkan kala itu Kimono sudah tidak dianggap lagi sebagai sebuah kebanggaan. Angka bunuh diri terus meningkat. Tapi seiring waktu berjalan dan daya pikir cepat, Jepang kini kembali dengan menerapkan bahwa ke rumah tangga adalah sebagai pahlawan.
“Tapi Indonesia justru terbalik,” tambahnya.
Irena menyebutkan amanah orangtua di dalam al-Qur’an. ”Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Subhanahu Wata’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” ujarnya mengutip Surat At-Tahrim: 6.
Karenanya, para orangtua disarankan memperhatikan ayat ini agar terus termotivasi jauh dari neraka. Sebab pengikisan agama terjadi secara perlahan karena pengaruh budaya dan pola pikir.
“Ikut selangkah demi selangkah. Sehasta demi sehasta. Dan sedepa demi sedepa. Hingga akhirnya mengikuti,” ucap Umi Irena mengutip sebuah hadits.
Agar anak-anak dijauhkan dari pergaulan yang bukan dari ajaran Islam, orangtua juga harus diberitahu dengan cara memberi keteladanan.
Harus disadarkanm bawah orangtua yang “meninggalkan” anaknya di rumah dengan alasan bekerja adalah tidak benar dan resikonya tidak kecil bagi rumah tangga.
“Orangtua harua disadarkan. Keliru jika wanita bekerja di kantor atau pabrik. Sebab Ibu Rumah tangga itu pekerjaan mulia dan pendidikan yang utama,” ujarnya menambahkan.*
Orangtua mana yang ingin anak-anaknya terjerumus ke lembah kenistaan dan kesesatan? Tak satupun orangtua di dunia ini menginginkannya. Jika pun ada, mungkin itu sebuah kegilaan.
Demikian salah satu kajian “Wahai Bunda Didiklah Aku dalam Islam” yang dibawakan oleh Pengasuh Majlis Ta’lim Al-Muhtadin dan Forum Komunikasi Lembaga Pembina Muallaf, Irena Handono belum lama ini.
Menurutnya, mendidik anak di era seperti ini dibutuhkan ekstra pengawalan. Jika perlu dari tidur hingga bangun tidur kita memantaunya.
Perilaku anak mayoritas ditentukan oleh seorang ibu. Sebab ibu-lah yang menurut banyak psikolog lebih mengerti sentuhan emosional anak.
“Ibu banyak meninggalkan pekerjaan utamanya mengurus anak. Andai memiliki baju bagus, tapi baju tersebut diletakan di lemari pembantu, bagaimana perasaannya? Tentu tidak ikhlas, bukan?” demikian ujar lulusan dari Seminari Agung (Institut Filsafat Teologia Katolik) ini.
Pendiri Irena Center ini mencontohkan, di dalam dunia yang kini penuh dengan modernisme, liberalisme dan sekulerisme, keberadaan seorang ibu saat ini terasa jauh bagi anak, bahkan seolah “tidak ada”.
Untuk mengurus anak saja seorang ibu saat ini sudah membutuhkan baby sitter.
Dalih ini yang dipakai kebanyakan ibu untuk melancarkan karirnya di luar. Padahal peran ibu di rumah tangga sangat dibutuhkan.
Mantan biarawati keturunan Thionghoa ini menitipkan pesan moral para para ibu tentang mendidik anak.
Ia menganalogikan seorang anak bagaikan gaun yang sangat mahal dan mesti dijaga super ketat.
“Mahal mana, gaun dengan putra dan putri kita yang dipercaya oleh baby sitter? Anak jangan dititipi oleh orang yang ‘tidak terpelajar’,” ujarnya pada hidayatullah.com.
Kasus Jepang
Ia mencontohkan Negara Jepang adalah Negara yang pernah mengalami degradasi moral karena terkikisnya rasa nasionalismenya oleh Barat.
Bahkan kala itu Kimono sudah tidak dianggap lagi sebagai sebuah kebanggaan. Angka bunuh diri terus meningkat. Tapi seiring waktu berjalan dan daya pikir cepat, Jepang kini kembali dengan menerapkan bahwa ke rumah tangga adalah sebagai pahlawan.
“Tapi Indonesia justru terbalik,” tambahnya.
Irena menyebutkan amanah orangtua di dalam al-Qur’an. ”Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Subhanahu Wata’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” ujarnya mengutip Surat At-Tahrim: 6.
Karenanya, para orangtua disarankan memperhatikan ayat ini agar terus termotivasi jauh dari neraka. Sebab pengikisan agama terjadi secara perlahan karena pengaruh budaya dan pola pikir.
“Ikut selangkah demi selangkah. Sehasta demi sehasta. Dan sedepa demi sedepa. Hingga akhirnya mengikuti,” ucap Umi Irena mengutip sebuah hadits.
Agar anak-anak dijauhkan dari pergaulan yang bukan dari ajaran Islam, orangtua juga harus diberitahu dengan cara memberi keteladanan.
Harus disadarkanm bawah orangtua yang “meninggalkan” anaknya di rumah dengan alasan bekerja adalah tidak benar dan resikonya tidak kecil bagi rumah tangga.
“Orangtua harua disadarkan. Keliru jika wanita bekerja di kantor atau pabrik. Sebab Ibu Rumah tangga itu pekerjaan mulia dan pendidikan yang utama,” ujarnya menambahkan.*
Jika Lupa Hafalan Al-Quran Berdosa Besar, Benarkah Demikian.? Yuk Simak..
Publik Netizen - ANDA mungkin pernah mendengar pernyataan bahwa orang yang menghafalkan Al-Quran kemudian lupa maka ia telah melakukan sebuah dosa besar. Benarkah demikan?
Maka masalah ini perlu kita kaji secara lebih teliti dan mendetail, kita periksa satu per satu fatwa para ulama terkait dengan masalah ini, dengan pandangan yang lebih objektif serta menghindari tindakan gegabah dalam berfatwa.
1. Fatwa Secara Umum
Kalau kita perhatikan fatwa para ulama, memang benar kebanyakan berfatwa atas haramnya melupakan hafalan ayat Al-Quran. Bahkan ada yang sampai mengatakan dosa besar.
Berikut ini ada beberapa fatwa mereka, diurutkan berdasarkan angka tahun wafatnya :
a. Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah (w. 728 H) di dalam Majmu’ Fatawa menyebutkan bahwa orang yang melupakan Al-Quran itu termasuk berdosa.
Sesungguhnya melupakan Al-Quran itu termasuk dosa. [1]
b. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) di dalam kitabnya Fathul Bari, menyebutkan pandangan beliau terhadap orang yang belajar Al-Quran lalu melupakannya.
Tidaklah seseorang belajar Al-Quran kemudian melupakannya kecuali dia telah menciptakan sendiri dosanya. Sesuai firman Allah SWT,”Musibah yang menimpamu dari maksiat adalah yang kamu lakukan sendiri”. Dan melupakan Al-Quran termasuk musibah yang paling besar. [3]
Fatwa Ibnu Hajar ini menjawab salah satu pertanyaan Anda, yaitu kalau orang lupa kok dihukum bersalah, padahal lupa itu sifat manusia, maka menurut beliau kasus itu sama saja dengan orang yang sedang dapat musibah. Memang tidak 100% kesalahan dia, tetapi tetap saja dianggap bersalah.
Perumpamaannya di zaman sekarang misalnya ada sepeda motor menabrak mobil kita dari belakang. Jelas bukan salah kita, tetapi namanya saja musibah, selain mobil rusak, biasanya kita pun ditilang juga, karena tetap dianggap telah melakukan pelanggaran oleh polisi. Kita sebenarnya tidak salah, tapi kita kena musibah dan dipersalahkan.
c. Zakaria Al-Ashari
Zakaria Al-Ashari (w. 926 H) di dalam kitabnya Asna Al-Mathalib menyebutkan bahwa melupakan Al-Quran itu bukan hanya sekedar berdosa saja, melainkan berdosa besar. Malahan menurut beliau meskipun hanya sebagian saja yang terlupa, juga sudah termasuk dosa besar.
Melupakan Al-Quran termasuk dosa besar, termasuk melupakan sebagainnya sudah termasuk juga [2]
Dasarnya menurut beliau adalah dua hadits berikut :
Aku diperlihatkan dosa-dosa umatku, ternyata yang paling besar adalah dosa orang yang telah diberikan Al-Quran, baik satu surat atau satu ayat, lalu dia melupakannya. (HR. Abu Daud)
Orang yang membaca Al-Quran kemudian melupakannya, nanti dia akan bertemu Allah dalam keadaan terpotong/kusta. (HR. Abu Daud)
2. Fatwa Secara Kritis
Kalau di atas kita dapati fatwa secara umum tentang haramnya melupakan hafalan Al-Quran, maka pada bagian ini kita akan kaji secara lebih kritis lagi, yaitu apakah hanya semata-mata lupa karena faktor manusiawi lantas kita bisa dikategorikan telah melakukan dosa besar?
Dalam hal ini para ulama melihat secara lebih seimbang, adil dan juga memperhatikan faktor manusiawi. Sebab ada banyak keadaan yang sulit juga untuk dipungkiri, antara lain :
a. Lupa Adalah Sifat Dasar Manusia
Allah SWT memang menciptakan manusia yang tidak bisa luput dari salah satu sifat dasarnya, yaitu lupa. Meskipun ada juga lupa yang disebabkan karena perbuatan syetan, namun bukan berarti manusia tidak bisa lupa.
Dalam kenyataannya, semua penghafal Al-Quran pasti tidak bisa terlepas dari masalah lupa. Tentu saja ketika hal itu terjadi, tidak bisa disamakan kasusnya dengan perbuatan bosa besar lainnya seperti zina, mencuri, membunuh nyawa manusia dan seterusnya. Kalau memang demikian, maka semua penghafal Al-Quran itu jatuh semua ke dalam lembah dosa-dosa besar secara keseluruhannya.
Padahal Allah SWT telah berfirman tentang kelemahan sifat manusia ini dan memberikan keringanan di dalam banyak ayat :
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. Al-Baqarah : 286)
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taghabun : 16)
b. Nabi SAW Pernah Lupa Ayat Al-Quran
Nabi SAW sebagai manusia pun juga tidak luput dari sifat lupa, karena lupa adalah salah satu fitrah manusia. Setidaknya ada dua kejadian yang bisa dijadikan dasar bahwa lupa adalah manusiawi.
Kejadian Pertama : Rasulullah SAW mengimami shalat dan pernah terlupa untuk meneruskan bacaan suatu ayat. Setelah shalat usai, seorang shahabat yaitu Ubay bin Ka’ab radhiyallahuanhu mengingatkan ayat yang beliau SAW terlupa tadi. Maka Rasulullah SAW pun menjawab :
Mengapa tadi tidak mau ingatkan?
Kejadian Kedua : Ada seseorang yang membaca suatu ayat dari Al-Quran dan Rasulullah SAW mendengarnya. Beliau bersabda :
Semoga Allah merahmati si fulan. Dia telah mengingatkan Aku atas suatu ayat yang Aku terlupa.
Dua kejadian ini jelas sekali memberikan gambaran kepada kita, bahwa meski beliau SAW seorang nabi, namun tetap saja beliau adalah manusia biasa yang bisa lupa, termasuk lupa atas suatu ayat Al-Quran pada keadaan tertentu.
Maka kita perlu bedakan dua jenis lupa. Ada lupa yang haram yaitu sengaja melupakan dan melalaikan. Tapi ada juga lupa yang bersifat tabi’i, manusiawi, serta merupakan sifat asli manusia dan tidak bisa dihindari darinya.
Dalam hal ini menarik kalau kita perhatikan fatwa dari Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia terkait masalah ini.
Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia, yang diwakili oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Abdurrazzaq Afifi, Abdullah bin Ghadyah dan Abdullah bin Qu’ud telah mengeluarkan fatwa dalam masalah ini.
Tidak pantas bagi penghafal Al-Quran melalaikan bacaannya. Dia harus merutinkan setiap hari agar terus hafal dan terlindung dari lupa. Namun bagi yang pernah hafal ayat tertentu lalu terlupa karena kesibukan atau lalai, maka dia tidak berdosa. Sedangkan ancaman buat orang yang lupa, haditsnya tidak shahih.[4]
Fatwa Al-Utsaimin
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di dalam Kitabul Ilmi menjelaskan bahwa lupa itu ada dua macam, yang satu tidak berdosa dan yang satu lagi berdosa. Dan lupa yang berdosa apabila melupakan Al-Quran dengan cara secara sengaja menolak Al-Quran.
Hal itu beliau jelaskan ketika para mahasiswa semester akhir mengadukan masalah hafalan Al-Quran mereka pada di semester-semester awal banyak yang sudah terlupa. Maka beliau menjawab bahwa lupa itu ada dua macam.
Lupa yang pertama adalah lupa terkait tabiat dasar manusia. Lupa yang kedua memang sengaja menolak Al-Quran dan tidak memperhatikannya. Lupa jenis pertama itu tidak berdosa dna tidak dihukum. Dan itu adalah lupa yang terkait dengan sifat manusia. [5]
Tidak Mau Menghafal Al-Quran Karena Takut Dosa Melupakan
Salah satu dampak negatif yang muncul apabila kita kurang cerdas memahami fatwa ini adalah adanya orang yang berpikir terbalik. Dari pada menghafal Al-Quran lalu terkena resiko berdosa lantaran bisa saja lupa, maka mendingan tidak usah menghafal saja sekalian, biar tidak ada resiko lupa dan tidak ada ancaman dosa.
Logika ini bisa saja muncul di benak kita secara begitu saja. Buat apa menghafal Al-Quran, kalau ancamannya malah jadi dosa bila terlupa?
Logika ini memang bisa jadi sangat masuk akal dan wajar bila terbersit di benak kita. Oleh karena itulah perlu juga diluruskan pemahamannya, agar tidak terbalik logikanya.
Pertama : bahwa menghafal Al-Quran 30 juz secara total memang bukan kewajiban. Bahkan dalam syarat sebagai mujtahid sekalipun, kita tidak menemukan adanya syarat hafal 30 juz. Para mujtahid hanya diwajibkan menghafal ayat-ayat hukum saja.
Kedua : Meski bukan syarat, tetapi rata-rata para ulama kelas paling rendah sekalipun, umumnya sudah hafal Al-Quran 30 juz sejak usia belia, sekitaran usia lima tahun sampai sepuluh tahun biasanya mereka sudah selesai menghafal 30 juz luar kepala. Bahkan menjadikannya ‘wiridan’ tiap hari.
Sebagian mereka malah ada yang mengkhatamkan 30 juz itu 2 kali dalam sehari. Dan hal itu mustahil dilakukan kalau bukan karena 30 juz itu sudah dihafal luar kepala.
Ketiga : Kalau sudah hafal 30 juz sejak usia 5 tahun kok sampai bisa lupa sama sekali, maka pasti ada hal yang tidak beres. Sebab biasanya hafalan sejak kecil itu akan terus melekat seumur hidup. Makanya para ulama di masa lalu akan terheran-heran kalau ada orang sudah hafal Quran sejak lima tahun usianya, lalu dia lupa semua, kemungkinannya dia murtad dari agama Islam. Karena itulah fatwanya menjadi : dosa besar!
Keempat : Namun buat kita yang hidup di zaman sekarang, wabilkhusus di Indonesia, usia 5 – 10 tahun itu rata-rata belum ada yang hafal. Paling jauh baru selesai IQRO’ jilid 6 saja. Kalau pun ada yang yang menghafal Al-Quran, biasanya cuma di pesantren khusus tahfizhul Quran. Namun biasanya santri dewasa setidaknya mereka yang sudah lulus SD.[]
[1] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa jilid 13 hal. 423
[2] Zakaria Al-Anshari, Asna Al-Mathalib, jilid 1 hal. 64
[3] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, jilid 9 hal. 86
[4] Faatwa Lajnah Daimah, jilid 4 hal. 99
[5] Kitabul Ilmi, hal 96-97
Sumber: rumahfiqih.com
Maka masalah ini perlu kita kaji secara lebih teliti dan mendetail, kita periksa satu per satu fatwa para ulama terkait dengan masalah ini, dengan pandangan yang lebih objektif serta menghindari tindakan gegabah dalam berfatwa.
1. Fatwa Secara Umum
Kalau kita perhatikan fatwa para ulama, memang benar kebanyakan berfatwa atas haramnya melupakan hafalan ayat Al-Quran. Bahkan ada yang sampai mengatakan dosa besar.
Berikut ini ada beberapa fatwa mereka, diurutkan berdasarkan angka tahun wafatnya :
a. Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah (w. 728 H) di dalam Majmu’ Fatawa menyebutkan bahwa orang yang melupakan Al-Quran itu termasuk berdosa.
Sesungguhnya melupakan Al-Quran itu termasuk dosa. [1]
b. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) di dalam kitabnya Fathul Bari, menyebutkan pandangan beliau terhadap orang yang belajar Al-Quran lalu melupakannya.
Tidaklah seseorang belajar Al-Quran kemudian melupakannya kecuali dia telah menciptakan sendiri dosanya. Sesuai firman Allah SWT,”Musibah yang menimpamu dari maksiat adalah yang kamu lakukan sendiri”. Dan melupakan Al-Quran termasuk musibah yang paling besar. [3]
Fatwa Ibnu Hajar ini menjawab salah satu pertanyaan Anda, yaitu kalau orang lupa kok dihukum bersalah, padahal lupa itu sifat manusia, maka menurut beliau kasus itu sama saja dengan orang yang sedang dapat musibah. Memang tidak 100% kesalahan dia, tetapi tetap saja dianggap bersalah.
Perumpamaannya di zaman sekarang misalnya ada sepeda motor menabrak mobil kita dari belakang. Jelas bukan salah kita, tetapi namanya saja musibah, selain mobil rusak, biasanya kita pun ditilang juga, karena tetap dianggap telah melakukan pelanggaran oleh polisi. Kita sebenarnya tidak salah, tapi kita kena musibah dan dipersalahkan.
c. Zakaria Al-Ashari
Zakaria Al-Ashari (w. 926 H) di dalam kitabnya Asna Al-Mathalib menyebutkan bahwa melupakan Al-Quran itu bukan hanya sekedar berdosa saja, melainkan berdosa besar. Malahan menurut beliau meskipun hanya sebagian saja yang terlupa, juga sudah termasuk dosa besar.
Melupakan Al-Quran termasuk dosa besar, termasuk melupakan sebagainnya sudah termasuk juga [2]
Dasarnya menurut beliau adalah dua hadits berikut :
Aku diperlihatkan dosa-dosa umatku, ternyata yang paling besar adalah dosa orang yang telah diberikan Al-Quran, baik satu surat atau satu ayat, lalu dia melupakannya. (HR. Abu Daud)
Orang yang membaca Al-Quran kemudian melupakannya, nanti dia akan bertemu Allah dalam keadaan terpotong/kusta. (HR. Abu Daud)
2. Fatwa Secara Kritis
Kalau di atas kita dapati fatwa secara umum tentang haramnya melupakan hafalan Al-Quran, maka pada bagian ini kita akan kaji secara lebih kritis lagi, yaitu apakah hanya semata-mata lupa karena faktor manusiawi lantas kita bisa dikategorikan telah melakukan dosa besar?
Dalam hal ini para ulama melihat secara lebih seimbang, adil dan juga memperhatikan faktor manusiawi. Sebab ada banyak keadaan yang sulit juga untuk dipungkiri, antara lain :
a. Lupa Adalah Sifat Dasar Manusia
Allah SWT memang menciptakan manusia yang tidak bisa luput dari salah satu sifat dasarnya, yaitu lupa. Meskipun ada juga lupa yang disebabkan karena perbuatan syetan, namun bukan berarti manusia tidak bisa lupa.
Dalam kenyataannya, semua penghafal Al-Quran pasti tidak bisa terlepas dari masalah lupa. Tentu saja ketika hal itu terjadi, tidak bisa disamakan kasusnya dengan perbuatan bosa besar lainnya seperti zina, mencuri, membunuh nyawa manusia dan seterusnya. Kalau memang demikian, maka semua penghafal Al-Quran itu jatuh semua ke dalam lembah dosa-dosa besar secara keseluruhannya.
Padahal Allah SWT telah berfirman tentang kelemahan sifat manusia ini dan memberikan keringanan di dalam banyak ayat :
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. Al-Baqarah : 286)
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taghabun : 16)
b. Nabi SAW Pernah Lupa Ayat Al-Quran
Nabi SAW sebagai manusia pun juga tidak luput dari sifat lupa, karena lupa adalah salah satu fitrah manusia. Setidaknya ada dua kejadian yang bisa dijadikan dasar bahwa lupa adalah manusiawi.
Kejadian Pertama : Rasulullah SAW mengimami shalat dan pernah terlupa untuk meneruskan bacaan suatu ayat. Setelah shalat usai, seorang shahabat yaitu Ubay bin Ka’ab radhiyallahuanhu mengingatkan ayat yang beliau SAW terlupa tadi. Maka Rasulullah SAW pun menjawab :
Mengapa tadi tidak mau ingatkan?
Kejadian Kedua : Ada seseorang yang membaca suatu ayat dari Al-Quran dan Rasulullah SAW mendengarnya. Beliau bersabda :
Semoga Allah merahmati si fulan. Dia telah mengingatkan Aku atas suatu ayat yang Aku terlupa.
Dua kejadian ini jelas sekali memberikan gambaran kepada kita, bahwa meski beliau SAW seorang nabi, namun tetap saja beliau adalah manusia biasa yang bisa lupa, termasuk lupa atas suatu ayat Al-Quran pada keadaan tertentu.
Maka kita perlu bedakan dua jenis lupa. Ada lupa yang haram yaitu sengaja melupakan dan melalaikan. Tapi ada juga lupa yang bersifat tabi’i, manusiawi, serta merupakan sifat asli manusia dan tidak bisa dihindari darinya.
Dalam hal ini menarik kalau kita perhatikan fatwa dari Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia terkait masalah ini.
Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia, yang diwakili oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Abdurrazzaq Afifi, Abdullah bin Ghadyah dan Abdullah bin Qu’ud telah mengeluarkan fatwa dalam masalah ini.
Tidak pantas bagi penghafal Al-Quran melalaikan bacaannya. Dia harus merutinkan setiap hari agar terus hafal dan terlindung dari lupa. Namun bagi yang pernah hafal ayat tertentu lalu terlupa karena kesibukan atau lalai, maka dia tidak berdosa. Sedangkan ancaman buat orang yang lupa, haditsnya tidak shahih.[4]
Fatwa Al-Utsaimin
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di dalam Kitabul Ilmi menjelaskan bahwa lupa itu ada dua macam, yang satu tidak berdosa dan yang satu lagi berdosa. Dan lupa yang berdosa apabila melupakan Al-Quran dengan cara secara sengaja menolak Al-Quran.
Hal itu beliau jelaskan ketika para mahasiswa semester akhir mengadukan masalah hafalan Al-Quran mereka pada di semester-semester awal banyak yang sudah terlupa. Maka beliau menjawab bahwa lupa itu ada dua macam.
Lupa yang pertama adalah lupa terkait tabiat dasar manusia. Lupa yang kedua memang sengaja menolak Al-Quran dan tidak memperhatikannya. Lupa jenis pertama itu tidak berdosa dna tidak dihukum. Dan itu adalah lupa yang terkait dengan sifat manusia. [5]
Tidak Mau Menghafal Al-Quran Karena Takut Dosa Melupakan
Salah satu dampak negatif yang muncul apabila kita kurang cerdas memahami fatwa ini adalah adanya orang yang berpikir terbalik. Dari pada menghafal Al-Quran lalu terkena resiko berdosa lantaran bisa saja lupa, maka mendingan tidak usah menghafal saja sekalian, biar tidak ada resiko lupa dan tidak ada ancaman dosa.
Logika ini bisa saja muncul di benak kita secara begitu saja. Buat apa menghafal Al-Quran, kalau ancamannya malah jadi dosa bila terlupa?
Logika ini memang bisa jadi sangat masuk akal dan wajar bila terbersit di benak kita. Oleh karena itulah perlu juga diluruskan pemahamannya, agar tidak terbalik logikanya.
Pertama : bahwa menghafal Al-Quran 30 juz secara total memang bukan kewajiban. Bahkan dalam syarat sebagai mujtahid sekalipun, kita tidak menemukan adanya syarat hafal 30 juz. Para mujtahid hanya diwajibkan menghafal ayat-ayat hukum saja.
Kedua : Meski bukan syarat, tetapi rata-rata para ulama kelas paling rendah sekalipun, umumnya sudah hafal Al-Quran 30 juz sejak usia belia, sekitaran usia lima tahun sampai sepuluh tahun biasanya mereka sudah selesai menghafal 30 juz luar kepala. Bahkan menjadikannya ‘wiridan’ tiap hari.
Sebagian mereka malah ada yang mengkhatamkan 30 juz itu 2 kali dalam sehari. Dan hal itu mustahil dilakukan kalau bukan karena 30 juz itu sudah dihafal luar kepala.
Ketiga : Kalau sudah hafal 30 juz sejak usia 5 tahun kok sampai bisa lupa sama sekali, maka pasti ada hal yang tidak beres. Sebab biasanya hafalan sejak kecil itu akan terus melekat seumur hidup. Makanya para ulama di masa lalu akan terheran-heran kalau ada orang sudah hafal Quran sejak lima tahun usianya, lalu dia lupa semua, kemungkinannya dia murtad dari agama Islam. Karena itulah fatwanya menjadi : dosa besar!
Keempat : Namun buat kita yang hidup di zaman sekarang, wabilkhusus di Indonesia, usia 5 – 10 tahun itu rata-rata belum ada yang hafal. Paling jauh baru selesai IQRO’ jilid 6 saja. Kalau pun ada yang yang menghafal Al-Quran, biasanya cuma di pesantren khusus tahfizhul Quran. Namun biasanya santri dewasa setidaknya mereka yang sudah lulus SD.[]
[1] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa jilid 13 hal. 423
[2] Zakaria Al-Anshari, Asna Al-Mathalib, jilid 1 hal. 64
[3] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, jilid 9 hal. 86
[4] Faatwa Lajnah Daimah, jilid 4 hal. 99
[5] Kitabul Ilmi, hal 96-97
Sumber: rumahfiqih.com
Selasa, 25 Juli 2017
Inilah Warna api yang sebenarnya menurut Sabda Nabi SAW
Publik Netizen - TENTU setiap manusia mengenal api. Salah satu hal yang sangat penting di dunia ini adalah keberadaan api. Ketika tidak ada api, mungkin kita tidak akan pernah mengenal masakan yang telah dimasak dengan matang. Maha Besar Allah dengan segala yang diciptakanNya.
Ketika para ilmuwan mempelajari api dan hubungan antara temperatur dan mereka menemukan bahwa warna api adalah merah, kemudian jika ditinggikan suhunya maka warna api akan menjadi putih. Jika dinaikkan lagi suhunya maka warna api akan berubah menjadi hitam.
Fenomena ini disebut oleh para ulama radiasi benda hitam, dan yang menakjubkan lagi adalah Nabi SAW telah menyebutkan fenomena ini, adanya perubahan warna api. Nabi Muhammad saw bersabda:
أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ
“Api dinaikkan suhunya selama seribu tahun sampai berubah menjadi merah, lalu dinaikkan lagi selama seribu tahun hingga berubah menjadi putih, kemudian dinaikkan lagi selama seribu tahun sampai menghitam, dan itulah yang disebut dengan hitam legam,” (HR. At-Tirmidzi).
Sungguh benar sabda Rasulullah saw. Hadits tersebut dikatakan oleh Nabi 14 abad yang lalu. Sungguh alasan apa lagi yang membuat kita masih ingkar? Islam merupakan agama yang sempurna. Segala hal telah Allah dan rasul-Nya atur dengan sempurna dan secara mendetail. Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya. []
Sumber: Kaheel7.com
Ketika para ilmuwan mempelajari api dan hubungan antara temperatur dan mereka menemukan bahwa warna api adalah merah, kemudian jika ditinggikan suhunya maka warna api akan menjadi putih. Jika dinaikkan lagi suhunya maka warna api akan berubah menjadi hitam.
Fenomena ini disebut oleh para ulama radiasi benda hitam, dan yang menakjubkan lagi adalah Nabi SAW telah menyebutkan fenomena ini, adanya perubahan warna api. Nabi Muhammad saw bersabda:
أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ
“Api dinaikkan suhunya selama seribu tahun sampai berubah menjadi merah, lalu dinaikkan lagi selama seribu tahun hingga berubah menjadi putih, kemudian dinaikkan lagi selama seribu tahun sampai menghitam, dan itulah yang disebut dengan hitam legam,” (HR. At-Tirmidzi).
Sungguh benar sabda Rasulullah saw. Hadits tersebut dikatakan oleh Nabi 14 abad yang lalu. Sungguh alasan apa lagi yang membuat kita masih ingkar? Islam merupakan agama yang sempurna. Segala hal telah Allah dan rasul-Nya atur dengan sempurna dan secara mendetail. Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya. []
Sumber: Kaheel7.com
Langganan:
Postingan (Atom)










